Bimas Katolik Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur

Selamat Datang di Website Bimas Katolik Provinsi Jawa Timur
Penyegar Rohani  “I LOVE YOU FULL”
Editor: mrABC212 Update: 23-06-2011

“I LOVE YOU FULL”

jesuslovesyou.gif 

“I Love You Full”, bila mendengar kata ini pasti kita akan teringat dengan tokoh legendaris dan fenomenal dari dunia musik Indonesia. Ungkapan ini sering kita dengar dari almarhum mbah Surip, yang tenar dengan lagunya: “Tak Gendong” dan “Bangun Tidur Lagi”. Kalau dikaji secara lebih jauh, ungkapan “I Love You Full” memiliki makna yang mendalam. Ungkapan ini dimaksudkan untuk menunjukkan identitas seseorang  yang sungguh memiliki rasa bahagia dalam hidupnya, rasa mencintai,  bersahabat dengan orang lain dengan tulus dan sepenuh hati.

Selain ungkapan “I Love You Full” tersebut, ada hal yang perlu kita gali lebih dalam, yaitu syair dari lagu “Tak Gendong”. Mari kita cermati bersama beberapa kalimat dari lagu tersebut:

Tak gendong kemana – mana, tak gendong kemana – mana.

Enak dong, manteb dong, daripada kamu naik pesawat kedinginan.

Mendingan tak gendong to, enak to, manteb to, ayo kemana...?

Tak gendong kemana – mana, tak gendong kemana – mana, enak tahu...!

Dari syair lagu tersebut kita dapat mengambil beberapa pesan yang ada hubungannya dengan persaudaraan dan cinta kasih:

1.      Rela menolong dan berkorban bagi orang lain, sehingga orang lain dapat bahagia

2.      Sikap perduli kepada permasalahan / penderitaan orang lain

3.      Mengutamakan kepentingan bersama, khususnya yang lebih membutuhkan

4.      Sikap bersahabat dan melayani sesama dengan sepenuh hati

 

Mungkin masih banyak lagi makna/pesan yang dapat kita gali dan teladani, hanya dari sebuah syair lagu yang singkat itu. Syair lagu mengingatkan akan masa kecil kita, siapa dari kita yang tidak senang bila berada dalam pangkuan atau dalam gendongan orang tua kita? Tentu kita akan merasa bahagia dan nyaman berada dalam dekapan penuh cinta orang tua.

Dari ungkapan “I Love You Full” dan dari syair lagu “Tak Gendong” diatas, kita sebenarnya diajak  untuk: mencintai dan mengasihi sesama kita dengan sepenuh hati. Selain kita harus mencintai diri kita sendiri, kita juga harus mencintai sesama, dan Allah sendiri. Hal ini dipertegas oleh sabda Yesus sendiri yang dapat kita baca dalam Injil Markus 12: 28 – 34: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu” dan “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”

Yesus berkata: “tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini”. Artinya, kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama menjadi hukum yang utama dalam menjalani kehidupan secara bertanggung jawab. Setiap orang harus mengasihi Allah dengan segenap hati,  jiwa, dan akal budinya. Demikian juga manusia harus mencintai sesamanya seperti mencintai dirinya sendiri.

Bagi Yesus, tidaklah cukup kasih kita kepada Allah hanya ditunjukkan dalam ungkapan iman dengan doa dan korban. Kasih kepada Allah juga harus dinyatakan dalam tindakan kita kepada sesama. Allah adalah sahabat sejati kita, yang harus kita cintai, karena Ia lebih dulu mencintai kita tanpa batas. Seseorang yang mengatakan bahwa ia mencintai Allah, haruslah mencintai sesamanya juga. Akibatnya, jika kita mencintai Allah dengan segenap hati, jiwa dan tenaga, maka kita akan mencintai diri sendiri dan sesama dengan cinta yang murah hati, beriman dan berbelas kasih.

 Persahabatan adalah: “membangun relasi/hubungan antara dua orang atau lebih secara intim atau dekat secara psikologis”. Hal ini ditandai dengan adanya sikap: terbuka, jujur, dan saling percaya, sehingga persahabatan akan berjalan dan bertahan lama. Iman Kristiani menawarkan prinsip – prinsip persahabatan yang lebih dari apa yang kita pikirkan. Tuhan sendiri bersabda: “Sahabat adalah mereka yang mau menyerahkan nyawanya bagi sahabatnya”. Pribadi Yesus merupakan gambaran paling nyata sebagai sahabat sejati, kehadiranNya meneguhkan orang yang tidak mempunyai harapan, Ia rela untuk berkorban bagi manusia. Bahkan nyawaNya sendiri yang dikorbankan demi cintaNya kepada manusia sebagai sahabatNya (Yoh 15: 13 – 15).

Kita mengenal adanya 3 variasi cinta: Philia, Eros, dan Agape. Mari kita fokuskan pada variasi cinta yang pertama dan ketiga, “Philia” dalam bahasa Yunani sering diterjemahkan dengan kata persahabatan dan cinta. Dalam Perjanjian Baru, kata “Phileo” (gemar, akan mencintai), variasi cinta ini mengarah kepada membentuk hubungan persahabatan pribadi dengan setiap sesama yang seminat dengan kita (bdk. William Chang, p.88). Cinta yang dimaksud dan dituntut dalam Perjanjian Baru adalah “Agape”: secara teologis digunakan untuk menunjuk cinta Tuhan bagi manusia, cinta ini diwahyukan dalam hidup, kematian, dan kebangkitan Yesus. Menurut Hanigan, “agape” memiliki tiga ciri khas. Pertama, Cinta ini adalah bebas, berbentuk pemberian, atau rahmat. Kedua, “Agape” tidak dimotivasi oleh fungsi atau keuntungan tertentu dalam obyek cinta, dilukiskan sebagai cinta yang tertuju kepada yang lain. Ketiga, “agape” adalah pengampunan dan penebusan, cinta ini menuntut bentuk nyata, sebab cinta ini memanggil manusia untuk menyesal, bertobat, dan menempuh hidup baru.

Secara sederhana dapat dikatakan, cinta kasih (agape) adalah: hormat kepada orang lain, dan bertanggung jawab atas kebaikan orang lain (bdk. etis Gene Outka). Dalam hal ini, kita diajak untuk melakukan kebaikan kepada orang lain/sesama.  Melakukan kebaikan bagi sesama tidak berarti kita harus berbuat sesuatu, tetapi dengan hadir dan mendengarkan orang lain dengan penuh perhatian, sudah merupakan ungkapan cinta kasih kepada sesama. Cinta kasih lebih daripada sekedar pemberian materi kepada seseorang, namun kita juga bisa memberikan bantuan kepada saudara rohani kita yang sedang dilanda dosa melawan cinta kasih, seperti: benci, iri, marah, dll. Dukungan moral dan spiritual dapat kita wujudkan dalam tindakan nyata yang bisa meneguhkan saudara/sahabat/sesama yang sedang mengalami kesusahan hidup.

Sebagaimana kisah tentang “jejak kaki di pasir”, kita bertanya: mengapa hanya ada satu pasang jejak kaki di pasir, sementara ada dua orang yang sedang berjalan? Jawabnya adalah: “hanya ada satu pasang jejak kaki, karena kita sedang digendong ketika sedang berjalan dan menjalani hidup ini, terutama ketika kita dalam masalah”. Yang menggendong/menopang adalah Allah sendiri dengan kasihNya. Maka marilah kita membalas cinta kasih dan gendongan mesra Allah, dengan mencintai sesama kita dengan sepenuh hati. “I Love You Full” my Lord, and “I Love You Full” my friends. Ha..Ha.......!!!!

By: Ag. Ari Budi. C, S.Ag

SMPK St. Stanislaus - Surabaya 

 

  
  
Kabar Daerah
 
Cari Berita

Agenda Kegiatan

-----------------------------

Pertemuan Pembinaan Guru Agama Katolik Sekolah Dasar
28-4-2017

Tulisan Populer

Work Shop Penyusunan Silabus dan RPP Berkarakter PAK SD 
Read: 65.895

MATERI MINGGU GEMBIRA MASA BIASA 
Read: 49.232

ADAKAH KEHIDUPAN SETELAH KEMATIAN ? 
Read: 45.326

Makna Ibadah dalam perspektif agama katolik 
Read: 42.489

CERITA REFLEKSIF 
Read: 40.813

Arsip



Copyright (C) 2010-2017  
  Email: admin@bimaskatolikjatim.com
Jl. Raya Juanda II Surabaya

Tampilan terbaik gunakan mozilla firefox terbaru